Breaking

Selasa, 20 Februari 2018

Februari 20, 2018

Mengusir Ogoh-ogoh Loreng dari Urutsewu


Diiringi shalawat, ratusan warga desa meramaikan kirab yang diselenggarakan dalam rangkaian acara merti Desa Wiromartan dan ruwatan Bumi Urutsewu. Tampak para bapak-bapak bergotong-royong memikul tumpeng jolenan hasil bumi, sementara ibu-ibu membawa jajan pasar yang ditata apik, anak-anak berpawai sepeda hias, dan diakhir rombongan tampak pemuda desa berduyun-duyun memanggul ogoh-ogoh raksasa berkulit loreng yang ditabuhi musik gamelan jawa.


Panas terik hari minggu (25/10) siang itu tak menyurutkan semangat masyarakat Desa Wiromartan menggelar kirab.Dalam rangka tradisi memperingati tahun baru Islam, syukuran hasil bumi sekaligus do’a bersama agar permasalahan tanah diUrutsewu segera selesai. Warga berjalan sejauh tiga kilometer dari lapangan Wiromartan menuju pesanggrahan elus, pendopo desa yang terletak 450 meter dari bibir pantai yang telah dipagar oleh TNI Angkatan Darat KODAM IV Diponegoro.

(Editor TJ)

Selengkapnya:


Selasa, 23 Januari 2018

Januari 23, 2018

Jumlah Petani Menurun dan Faktor-Faktor Penyebabnya

Ilustrasi


Jumlah Petani di Indonesia terus menurun, berdasarkan hasil Sensus Pertanian 2013 (ST2013) menunjukkan bahwa jumlah rumah tangga pengguna lahan menurun sebesar 4.668.316 (15,35%) rumah tangga dalam satu dekade. Menurunnya jumlah petani besar kemungkinan akan berpengaruh terhadap menurunnya produksi pangan, yang dalam jangka panjang dapat memicu terjadinya krisis pangan.

Menurunnya Jumlah petani disebabkan oleh beberapa faktor, yang dikelompokkan menjadi faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi faktor ekonomi, dimana petani seringkali mengalami kerugian dalam menjalankan usaha tani, dan faktor yang kedua adalah mindset petani, bahwa profesi petani di Indonesia diidentikkan dengan kemiskinan, kurang pendidikan dan profesi orang tua. Faktor eksternal merupakan faktor yang datang dari luar individu petani, yaitu faktor alam dan faktor konversi lahan yang disebabkan oleh kebijakan pembangunan.

Mengingat profesi bertani sangat bergantung pada alam, bencana alam seperti kekeringan, longsor dan banjir, ditambah lagi ledakan hama yang sering terjadi, mengakibatkan petani mengalami gagal panen bahkan kehilangan lahan garapannya. Di Indramayu Jawa Barat, akibat dari kekeringan yang melanda pada tahun 1990-2008 menyebabkan penurunan produksi (gagal panen) padi sebesar 24.376,4 ton per tahun. Akibatnya petani mengalami kerugian besar. Di titik itulah petani memilih meninggalkan profesinya.


Faktor terakhir adalah faktor konversi lahan, angka konversi lahan di pulau Jawa, sebagai penyumbang 53% pangan Nasional, terus meningkat, rata-rata tiap tahun 7.923 hektar lahan sawah di Jawa harus dikonversi menjadi bangunan. Ironisnya, konversi lahan yang terjadi adalah dampak dari kebijakan pembangunan. Akibatnya, petani kehilangan lahan garapannya, dan terpaksa harus mencari profesi lainnya. Setidaknya, kebijakan pembangunan yang menggusur lahan tersebut harus bertanggungjawab atas menurunnya jumlah petani di Indonesia.


Selengkapnya :

Download pdf.

Senin, 22 Januari 2018

Januari 22, 2018

Dosen Kenthir, Key-Board dan Imajinasi Otak Kebalik



Sudah lama saya tidak memainkan alat musik Key-Board. Barangkali sudah 7 tahun lamanya. Terakhir saat bermain di panggung dengan grup band Cat LikeThief.

Saya ingat lagi sama alat musik ini saat baca buku Driving Story; Dosen Kenthir Belajar Nyetir karya (Bu) Nikmah Yuana. Buku yang dari judulnya tidak kebayang kalo bakal nyeritain juga tentang musik.
Judul Buku : Driving Story; Dosen Kenthir Belajar Nyetir.
Penulis : Nikmah Yuana
Penerbit : Edents Publika
Tebal : 220 halaman
Harga : Rp 69.000


Betul, di Bab terakhir (27) buku ini menceritakan saat penulis dan suaminya hendak membeli alat Key-Board untuk sanggarnya, di sebuah toko musik di Semarang. Bab terakhir ini adalah Bab pertama yang saya baca setelah kata pengantar. Yaps, dari dulu saya memang suka baca buku dari belakang. Barangkali karena otak saya kebalik.

Dulu waktu SMP atau SMA, tiap ngerjain soal Matematika atau Kimia, saya selalu ngerjain soal dari belakang. Mungkin jadi terbiasa. Maksud saya, kalo pas saya ngerjain waktunya tidak cukup, jawaban soal-soal di halaman depan bisa tanya ke teman lain, yang pastinya sudah mereka kerjain. Lumayanlah.

Kembali..., Nikmah Yuana merupakan seorang Dosen Akuntansi di Politeknik Negeri Semarang (POLINES). Dilihat dari profesinya, beliau sangat terbiasa dengan angka-angka.

Imajinasi saya, musik baginya adalah kumpulan angka-angka yang ditumpuk rapi dan teratur dalam sebuah buku laporan. Bermain musik ibarat memainkan rumus-rumus yang misterius dan, bisa dibilang sedikit angker.

Lho.... buktinya, saat Nikmah berbisik pada suaminya “Aku ora mudeng.” Dalam buku kisah nyata tersebut memang menceritakan mereka saling berbisik saat di Toko Musik.

Bisik Nikmah pun dibalas sang suami dengan mengatakan “Rak popo aku yo ora mudeng. Mengko didelok ning internet.”

Bahkan, mereka terheran dan malah bersitegang, saat diketahui pada alat Key-Board tertera ”C D E F G H I”??? bukannya “1 2 3 4 5 6 7 1”. Saya sampai tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nanti setelah alat musik itu sudah di rumah?

Saya dan Cat Like Thief, 7 tahun lalu



Kalo mau pesan klik disini!


Kamis, 21 Desember 2017

Desember 21, 2017

Dibalik Weleri Barberman Show #2 (Bagian 5)

Tidak lupa berfoto sebelum pentas dimulai. (RK-8/12/17)

Sudah Hari H, Saatnya Eksekusi
Tak ada banyak perubahan lagi. Peserta dari kalangan Yatim dan Difabel tidak mampu lagi dimaksimalkan. Hingga hari H, Jum’at 8 Desember 2017. Hari dimana para Barberman akan mengeksekusi puluhan kepala, barangkali seratus kepala.

Saya melihat jam, sudah jam 09.30 WIB. Para peserta datang pagi-pagi. Mereka rela menunggu lebih dari 30 menit.

Terdengar suara gemuruh sepeda motor. Yaps.., akhirnya rombongan tiba. Ternyata mereka sengaja saling tunggu. Biar tidak nyasar.

Satu per satu melepas helm dan turun dari motor. Bak kesatria gagah yang turun dari kudanya. Semua langsung bersalaman dan saling menyalami. Saya hitung, jumlahnya 17 orang. Ditambah Ramons dan Najib, jadi 19.

Peralatannya lengkap. Tak lupa, rol kabel yang sudah disiapkan kemarin juga dibawa Barberman Sabar. Semua Barberman langsung bersiap menata peralatannya.

Tak lama, menyusul Barberman dari Mr. Atwisd Barberstore, Barberman Pirin, dan disusul lagi Barberman Dicky, yang datang agak siang.

Seperti biasanya, sebelum acara dimulai kita menyempatkan berfoto dulu. Saya memposisikan diri jadi manusia kamera dadakan.

Sepertinya semua sudah siap. Barberman sudah ambil posisi. Peserta juga sudah mbabah di kursi pilihannya. Satu...dua...tiga.., cukur rambut gratis dimulai!

---

(bersambung ke bagian 6)


Senin, 18 Desember 2017

Desember 18, 2017

Dibalik Weleri Barberman Show #2 (Bagian 4)

Wak Nur nggitik (memangkas rambut) seorang bocah. (RK-8/12/17)

Ada Saran dari Wak Nur
Kita lanjutkan. Sepertinya Wak Nur lagi banyak pelanggan, nih. Ramons nyelonong masuk tanpa permisi. Bak pelanggan pangkas.

Ehm..ehm.., saya memulai pembicaraan. Menanyakan kesiapan Wak Nur dan timnya. Namun sebelumnya saya beri pengantar tentang acara Jum’at depan itu.

Pandangan Wak Nur mulai berubah. Ia mulai memunculkan senyum sinisnya. “Sepertinya ada yang salah ini”, ucapku dalam hati.

Benar ternyata. Wak Nur membeberkan kritik dan sarannya. Ia rada kurang klik pada acara kali ini. Menurutnya, kurang tepat sasaran.

Target awal komunitas, cukur gratis hanya untuk kalangan difabel, anak yatim dan kelompok warga yang sangat membutuhkan. Layaknya saat Weleri Barberman Show jilid satu. Sedangkan kalangan umum dikenakan tarif seikhlasnya. Dananya yang terkumpul akan dimanfaatkan untuk amal ke kalangan yang membutuhkan.  

Yah, betul juga sih. Emang tujuan awalnya seperti itu. Acara jilid dua ini, memang untuk warga umum di sekitar lokasi Karya Buah Futsal.

Tapi kami tak habis akal. Mumpung masih ada waktu. Saya, Ramons dan Mas Ari berkomunikasi lagi dengan tuan rumah, agar memperbanyak peserta sesuai yang ditargetkan. Ternyata sulit. Di sekitar situ tak ada yayasan panti asuhan maupun sekolah difabel.

Berhubung  disana banyak pesantren, nemu-nya mentok cuma dari kalangan santri. Tapi tak mengapa, mereka juga kalangan yang harus dimuliakan.  

Malam Seninnya, usai koordinasi dengan Mas Ari, saya coba menemui Ormas Pemuda di sekitar lokasi. Meminta bantuan mereka mencari peserta dari kalangan yatim dan difabel. Mereka bersedia dan meminta waktu untuk mengonfirmasinya hari Rabu. Yah, yang penting usaha dulu. Hasilnya belakangan.



---

(bersambung ke bagian 5)
Desember 18, 2017

Dibalik Weleri Barberman Show #2 (Bagian 3)

Siap meluncur menemui si Bos. (51-2/12/17)

Tim Bergerak!
Sabtu, 2 Desember 2017 pagi, saya agak malas-malasan. Tiba-tiba ada telfon dari Jakarta. Rupanya si Tomi. Teman di grup sebelah. Ia menyuruhku untuk membaca pesan di hape. Betul, saat hape dibuka, baru ingat ada janjian dengan Ramons jam 10.00 WIB. Wooh..., ini sudah lebih 50 menit. Saya segera meluncur.

Pagi itu kita memang ada janji ketemu dengan Bos Joko membahas fiksasi acara. Yaps, akhirnya kita ketemu di salah satu kedai printing di Weleri. Si Bos nampaknya buru-buru. Tanpa basa-basi kami langsung membahas sistem kerjasama.

“Okee..”, kata si Bos Joko. Dan, kita mulai bergerak!!!

Motor matic kebanggaanku sudah siap tancap gas menyusur jalan. Tujuan pertama adalah ke Salon Gaul, menemui Mas Hery, selaku Ketua. Zzzt... Mas Hery dan timnya sudah oke dengan tugasnya. Selanjutnya ke Master Barbershop, ternyata hari itu sedang tutup. Mungkin lagi libur Maulid Nabi.

Kita tancap gas lagi menuju ke Wak Nur Barbershop. Wak Nur, pria berlumur tatto di lengan kanannya itu memang ditunjuk jadi sekretaris komunitas. Dalam perjalanan kesana, kami tak luput mampir sebentar di kios Mr. Atwisd Barberstore. Menjumpai Mep yang lagi rame pelanggan.

“Jum’at siap?” tanya Ramons. Dan Mep, dengan wajah lugu bercampur garangnya menjawab kalo dia siap tempur di Hari Jum’at besok. Itu semakin menambah semangat kami. Lanjut. 

Dan tibalah kami di kios Wak Nur. Bentar, ceritanya saya stop ! ... mau markir motor dulu.


---

(bersambung ke bagian 4)
Desember 18, 2017

Dibalik Weleri Barberman Show #2 (Bagian 2)

Suguhan di Rumah Mas Ari, Ransy Banana toping Coklat. (RK-1/12/17)


Rembug dan Pembagian Tugas
Besoknya kita laporkan kabar ini ke Mas Hery, Ketuanya Komunitas. Jum’at malam 1 Desember 2017, usai jama’ah di Masjid An-Nur kita adakan obrolan ringan di rumah Mas Ari, di Penyangkringan Weleri.

Ditemani kopi hangat dan Ransy (Crunchy) Banana buatan Mbak Anggie, Isteri Mas Ari, kita mulai buka obrolan. Hmmm...., sayang memang, teman-teman lain di komunitas tidak serta hadir saat itu, jadi nggak bisa nyicipi. Kemudian bla..bla..bla, Ramons menceritakan runtutan kronologinya. Semua mendengarkan sambil senyum-senyum.

Karena memang untuk acara sosial, tak pikir panjang, semua menanggapi positif. Kitapun yakin kalo teman-teman yang lain juga pasti akan senang menerima kabar baik ini. Karena seharusnya, juga ada Show di Jum’at Kliwon bulan Desember ini.

Akhirnya kita membuat opsi-opsi kerjasama dengan Bos Joko. Kebetulan ia juga punya niat membantu fasilitas yang dibutuhkan untuk acara kedepan. Saya ingat, saya yang mencatat kebutuhan-kebutuhannya, tapi nanti saya tampilkan di lampiran saja. Tak lupa pula kita membagi tugas untuk persiapan acara.



Begini kutipan catatan pembagian tugasnya:


Beruntung, acara kali ini tidak memerlukan banyak administrasi, seperti persuratan dan proposal pendanaan. Jadi lebih mudah bergerak dan tidak banyak menyita waktu. Tapi next time itu jadi hal penting bagi komunitas.

---

(bersambung ke bagian 3)